Bahagia Yang Berbeda

Pernahkah kalian melihat anak-anak yang senangnya tiada tara saat mendapat mainan baru?

Pernahkah kalian melihat raut wajah orang tua saat melihat anak mereka pulang dari rantauan?

Pernahkah kalian melihat tangis haru pasangan suami istri yang menanti buah hati terwujud?

Bahagia…

Versi mereka…

Beberapa waktu yang lalu, aku membaca sebuah tulisan kira-kira tulisannya seperti ini Ada yang dapat 10 ribu udah senang. Ada yang dapat nilai 70 udah senang. Jangan merusak kesenangan orang lain dengan kata “itu aja senang, norak”. Derajat kesenangan orang beda-beda.

Aku sempat mikir iya sih, setiap orang bisa happy karena apa aja. Kalau ada orang yang senang kenapa harus dirusak. Jujur aku pernah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, dulu. Pernah di suatu acara, temanku menyajikan makanan kue basah tradisional. Kebetulan aku penggemar kue basah. Aku puji temanku dan bilang “kue-kuenya enak!” Eh dari sudut yang berbeda ada yang nyahut (temanku juga sih) “nanti saya belikan kau 10 kue begini Pur, biasa aja kali!” Kemudian suasana jadi hening. Entah responku yang berlebihan atau sajian makanannya yang ia tak suka, entahlah. Katanya mau belikan aku 10 kue basah, sampai sekarang pun tak kesampaian. Temanku yang punya acara juga hanya bisa diam, aku tahu dia juga menjadi tak bersemangat, terlihat dari raut wajahnya kala itu. Kejadian ini, jadi pelajaran buatku karena tiap kata yang sifatnya merusak suasana bakalan selalu diingat.

Versi berbeda dari bahagia, janganlah dirusak. Karena saat kita bahagia, bisa saja kita bisa menularkannya.

Makassar, 09 September 2020.

6 comments

  1. Jadi pengen tahu aspek psikologi dari orang-orang seperti mereka. Termasuk menurut saya, orang yang sering batalin kebahagiaan temannya yang baru saja membeli suatu barang dengan mengatakan, “kemahalan itu kamu belinya” atau “Barang gitu aja kok harganya segitu”.

    Disukai oleh 1 orang

    • Mohon maaf mas, saya bukan anak psikologi, tapi bila berkaca dari pengalaman pribadi dan kawan saya, sbg orang yg pernah tdk dihargai kebahagiaannya cenderung bisa membuat seseorang insecure dan menutup diri.

      Kalau menurut saya, dengan menilai suatu harga barang kemahalan atau nggak, itu sah-sah saja selama dia mampu dan tidak ngutang ke kita. Tapi beda lagi, kalau dianya nanya saran, “ini kemahalan gak sih?” Nah itu baru aku kasih saran, kalau bisa berikan pilihan atau perbandingan harga barang yg dia mau beli.

      Terima kasih sudah mampir di blog saya mas 🙏🏻

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s