Teman Masa Kecil

Pic by Pinterest

Sejak internet bisa diakses dengan mudah, mendapatkan teman lama di masa lalu tidaklah susah. Contohnya saja Ibu dan Bapakku, sejak aktif di Facebook Ibuku dapat kembali menjalin komunikasi dengan teman-teman sekolahnya, murid-muridnya bahkan keluarga jauh yang lama tak jumpa. Tak jauh berbeda dengan Bapakku, karena kebiasaan beliau yang sering online, aku pun dapat kembali menjalin komunikasi dengan sepupu-sepupu jauh dan teman kecilku yang lama tak bertemu “Dian ini temanmu dulu, sering bermain denganmu waktu kecil, Papa kasih nomormu yah, chat dia.” Entah berapa kali Bapakku berkata seperti ini, baginya menjalin silaturahim, membuatnya bahagia. Aku juga senang.

Tak banyak yang kuingat hanya beberapa lembar foto yang Orang Tuaku simpan, menjadi memori kebersamaan. Berkat akses internet yang mudah, Keluarga jauh yang lama tak bertemu sempat mengadakan dua kali family gathering, berkumpul dalam grup whatsapp dan berjumpa langsung di suatu tempat, terakhir tahun lalu saat moment lebaran Idul Fitri. Dan sayangnya tahun ini kami tak bisa berkumpul bersama.

Jauh sebelum kenal kata pindah, aku punya teman kecil, bernama Yuli. Rumah kami sangat dekat. Ada sungai yang menjadi pemisah antara rumahku dan rumah Yuli, aku menyebutnya kuala atau kali. Kami sekelas dulu, Yuli adalah murid yang pandai, selalu rangking 1. Aku? tak sebanding dengan Yuli yang pintar.

Aku tahu rumah Yuli saat duduk di kelas 3 SD. Yuli jarang keluar rumah. Biasanya saat sore aku hanya melihat ayahnya keluar dari pintu belakang rumahnya, membersihkan tanaman liar dekat tanggul atau menebang pohon pisang pinggir kuala.

Ada kebiasaan unik yang sampai hari ini aku ingat. Saat sore menjelang aku duduk di pinggir tanggul. Kulihat Ayah Yuli keluar, sambil teriak aku bertanya,
“Om, mana Yuli?”
“Oh, ada sini, Yuli ada temanmu cari” kata Ayah Yuli.
Kemudian Yuli keluar
“Dian, sini ke rumahku.”
Kulihat air sungai yang cukup deras, mengurungkan niatku untuk ke rumahnya.
“Nanti saja, saya mutar lewat jalan, kalau lewat sini nanti saya hanyut”
“Oke” sahut Yuli.
Begitulah hampir setiap sore aku berkomunikasi dengan Yuli, pembicaraan yang bahkan tetangga pun bisa mendengarnya.

Hanya beberapa kali aku ke rumah Yuli. Paling sering saat ada PR, atau saat bersama teman-teman yang lain. Tapi setiap kerumahnya, aku harus pastikan sendal yang kukenakan tidak gampang putus karena menuju kesana tidak mudah untuk ukuran anak SD, aku harus mutar jauh belum lagi kalau ada anjing yang siap mengejar siapapun dekat lorong rumah Yuli.

Beberapa waktu lalu, aku teringat teman kecilku ini. Sejak kita lulus Sekolah Dasar aku jarang bertemu dengannya. Apalagi saat aku pindah rumah, tak pernah lagi kudengar kabar tentang dia. Aku iseng mengetik nama Yuli di daftar pencarian via Instagram. Aku masih hafal nama lengkapnya. Dan akhirnya ketemu. Kukirim pesan untuknya, tapi sekarang belum dibaca.

Juli 2020.

7 comments

  1. Semoga segera direspon! Seneng aja pasti rasanya kalau bisa reconnecting sama teman2 lama, apalagi kawan masa kecil.

    Nice writings btw, happy to have found this blog. Salam kenal dari follower baru!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s